Artwork : Don't Be Sad, Teuku Umar!


Artwork yang satu ini menggambarkan sosok Teuku Umar yang sedang bersedih, kecewa, marah, atau apalah namanya, karena ngeliat kondisi Aceh sekarang. Teuku Umar merasa perjuangannya sia-sia. PILKADA, contohnya. Dulu kita berperang melawan Belanda, sekarang kita 'berperang' melawan saudara sendiri. Eh, tapi entah ya. Gue buta politik. So...nevermind ._.

Read More..

Comic Strip : Falling Star

Read More..

Artwork : The Soloist

 
"...I can, however, speak for myself. 
I can tell you that by witnessing Mr. Ayers' courage, his humility, his faith in the power of his art, I've learned the dignity of being loyal to something you believe in. 
Of holding onto it, above all else. 
Of believing, without question, that it will carry you home."
 ~Steve Lopez, The Soloist (2009)

Read More..

Dibalik Catatan Seorang Mahasiswa Salah Jurusan (PIC)

Temen gue pernah bilang, dibelakang buku catatan seseorang, pasti ada coretan.

Kadang itu ada benernya juga.
Buku catatan gue aja, 60% nya terdiri atas coretan ga penting. Mulai dari gambar wajah dosen, belajar tanda tangan, atau coretan-coretan lain yang ga jelas.

Banyak temen yang sempat mengira gue rajin banget, seakan-akan setiap apapun yang dikatakan dosen langsung gue abadikan di buku catatan.
Faktanya, gue bukan nyatat, tapi menggambar. Haha --"
*boro-boro nyatat, ke kampus aja gue sering ga ikhlas

Dan, ini lah apa yang ada di balik catatan seorang gue. Cekidot :

Read More..

Postingan Galau : Yang Lebih Menyiksa dari Sekedar "Merindukan"

*ilustrasi ini sementara doang. Gue pinjem dari sini


Guys, apa yang bakal lo baca sekarang ini, sebenarnya tentang secuil perasaan gue ke seseorang. Seseorang yang udah tiga kali gue buatin artwork. Seseorang yang sering bikin gue galau. Seseorang yang...ah, lupakan. Kita ga bahas dia sekarang.
*mungkin lain kali.


***

Apa yang bakal gue bahas di postingan kali ini adalah tentang 'rindu'. Sesuatu yang ga bisa kita kontrol dengan mudah, sesuatu yang ga bisa kita hindari setiap kali kita punya rasa ke seseorang.

Karena kangen, atau rindu, adalah kutukan bagi setiap mereka yang punya cinta.
Kutukan yang paling manis...dan disaat yang sama, bisa menjadi kutukan paling 'sadis'.

Read More..

Don't Make Me Hate To Draw

Akhir-akhir ini gue sama sekali ga punya semangat untuk nulis. Itu kenapa blog ini terlantar sekian lama dan terabaikan bagai toilet rusak. Dan, itu juga kenapa beberapa postingan kebelakang, gue lebih milih posting artwork.

Namun ternyata, pasca artwork 'A Little Girl', ketenangan gue terenggut pelan-pelan.
Setiap mahkluk hidup dalam hidup gue dengan membabi buta dan tak berperi kemanusiaan meminta gue melakukan hal yang sama dengan wajah mereka.

Read More..

Artwork : Turtle Can't Fly


Read More..

Artwork : Lonely Owl

Read More..

Artwork : A Little Girl (Digital Painted)

Tepat di postingan yang ke-1000 ini *ngarang*, gue akan menepati janji untuk ngepost gambar "A Little Girl" yang versi udah 'dinodai' sama photoshop.

Sehingga, gambar yang tadinya cuma karya-pensil-pinjeman-dari-adik-gue, akhirnya berubah menjadi SEBUAH MAHAKARYA DIGITAL PAINTING YANG...
belum selesai, sebenarnya. Dan ga kan pernah selesai ._.

Read More..

Sketsa : A Little Girl

Kali ini gue gak bakal posting tulisan atau cerita seperti biasanya. Gue cuma mau posting produk imsonia gue selagi nunggu sahur. Yaitu sebuah sketsa pensil keponakan gue yang umurnya entah berapa. 3 tahun? 4 tahun? Ga tau gue ._.
 

Read More..

Marhaban Yaa Formalitas

Gue ganteng. Semua juga tau.
Ini bulan puasa. Semua juga tau. Kecuali kambing tetangga.

Di kasus ini, definisi bulan puasa adalah momen ketika inbox hape gue harus kesurupan ucapan ‘indah’ yang dikirimkan oleh sodara, sahabat, temen lama, tetangga, atau bahkan dari nomor yang bahkan gue ga tau itu siapa. Inti dari setiap ucapan itu adalah “Selamat Ramadhan dan Mohon Maaf atas segala Kekhilafan”.

Read More..

Uneg-Uneg Seorang Jomblo Sirik : Jomblo juga Manusia

Uang 50 ribu hilang; dispenser rusak; upil terlalu keras; sariawan bertebaran di mulut (emang ada gitu sariawan di pantat?); dan data penting terhapus;
betapa menyebalkan kalau semua itu terjadi di saat yang hampir bersamaan. Tapi iya, emang itu yang lagi gue alami.

*kok curhat?

Sayangnya semua itu belum cukup untuk membuat gue menderita.
Alkisah, ada seorang temen yang dulunya senasib dengan gue (dia pernah gue sebut namanya disini).

Waktu itu kita berdua sama-sama baru putus dengan pacar masing-masing setelah bertahun-tahun jadian. Kitapun galau sama-sama; ketawa sama-sama; ngupil sama-sama; nulis puisi patah hati sama-sama; ngopi sama-sama; pokoknya hampir semuanya kita lakukan berbarengan. *sumpah, bohong*
Kecuali mandi dan boker.

Sikapnya berangsur-angsur berubah setelah dia menguasai ilmu pelet tingkat tinggi terus dia jadian dengan seorang perawan cewek polos tak berdosa.
Sejak itulah dia mulai menistakan gue yang jomblo ini secara brutal dan intensif. Hinaan demi hinaan datang bertubi-tubi dari mulutnya kayak lubang pantat lagi diare.



*foto profil dan nama terpaksa gue sensor*




Gambar diatas itu screenshot dari wall Facebook gue.
Sebenarnya masih ada banyak lagi teror batin yang dikirimin ke wall, tapi hampir semuanya udah gue hapus :p


Gue udah mencoba secuek mungkin, tapi yang namanya air cucuran atap ya jatuhnya ke pelimbahan juga.

Maksudnya?
Maksudnya, sekuat apapun gue berdiri kalo di dorong terus-terusan pasti jatuh juga ._.


*FINE FINE!! peribahasanya emang ga nyambung!!

Diejek terus-terusan, gue pun KESAL! Gue sempat menyusun beberapa rencana untuk memusnahkan dia. Mulai dari rencana gores-gores mukanya pake garpu; dorongin dia dari jembatan; siramin jari tangannya dengan air raksa--biar dia ga bisa ngupil lagi; sampai sumpelin mulutnya pake kaos kaki bekas 3 bulan pake. *yang terakhir ga elit banget --"

tapi karena kemurnian hati gue, semua rencana gue gagal. Gue masih menunggu waktu yang tepat untuk mewujudkannya ._.

Siluman bunga bangke yang satu ini adalah peraih Nobel Perdurjanaan Dunia. Dia dan pacarnya juga pernah masuk nominasi "The Best Devil-Couple" di Biadap Award 2011.

Bayangin, saking niatnya ngejek gue, kalo dia lagi telponan sama pacarnya pasti di loudspeakerin. Pacarnya yang di seberang hp pun ikut-ikutan menjadi makhluk jahanam dan meledek kejombloan gue. Dikeroyok dengan cara seperti itu, sama sakitnya kayak ditampar dengan sendal jepit pas lagi sariawan.

Oke, mungkin kedengaran kayak gue ini dengki banget. Dan, keliatannya juga gue putus asa banget, desperate banget. Terserah deh.

Tapi sebenarnya temen gue inilah yang paling bertanggung jawab terhadap gue yang awalnya niat banget ngejomblo--malah berubah jadi lelaki kesepian putus asa yang ngebet banget naik haji. Eh, pacaran.

Diam-diam tiap malam, dengan berlinang airmata gue selalu berdoa sama Yang Maha Kuasa semoga gue diberi ketegaran menghadapi ujian ini, dan semoga semua yang pernah ngejek gue MENDERITA IMPOTEN SECARA PERMANEN :p

*doa orang teraniaya

***

Beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang mengejutkan di timeline facebook dan sempat buat gue senang stadium 4.

*ciee...langsung ganti foto profil

Temen gue jomblo lagi! Melihat itu, spontan gue mati bersimbah ketawa sambil nunjuk-nunjuk monitor laptop.

'Mampus lo! Karma lo!'

Itu artinya ga ada lagi yang bakal menindas gue!
Nestapa gue selama ini pun akhirnya punah tergantikan dengan rasa bahagia sejahtera sentosa tiada tara. Ini kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan mereka yang menang lotre.

"Ini akibat sering main ke kosan kalian..." katanya.
Anjrit, pake salah-salahin kosan orang... -____-"
Whatever. Yang penting dia ga punya alasan lagi untuk merendahkan gue :D

Sayangnya, kebahagiaan gue agak layu pas kemaren gue liat dia boncengan sama mantan-pacarnya.

CLBK kah?!

*jleb*

Walaupun katanya dia ga berencana untuk balikan, sepertinya drama mimpi buruk gue akan dimulai kembali. Ntah lah, liat aja ntar kedepannya gimana -_-"

***

Buat elo-elo kaum non-jomblo... Harusnya kalian tau jomblo juga manusia. Ga semua yang single berarti ga laku. Gue contohnya, GUE INI JOMBLO BERMARTABAT!

...Dan demi bulu jembut ketek yang bertaburan di lantai kamar gue, sumpah sakit banget ketika gue harus mendengar ledekan kalian.

Jadi, tolong hargai kami para jomblo; sayangi kami sebagaimana kalian menyayangi kami diwaktu kecil; cintailah kami; cebokin pantat kami; terima kami apa adanya. Kami ini jomblo, bukan koruptor, bukan maling kolor, bukan homo, bukan penderita AIDS;

Kalo kalian masih ga respek yaaa...ingat, karma berlaku. GUE DOAIN SUATU SAAT KALIAN AKAN JOMBLO SELAMANYA :p
*doa orang yang teraniaya part II

"Kami yang jomblo akan lebih tegar kalau kalian nggak pernah pamerin pacar di tempat umum!"
*Pacaran di kuburan aja gih ._.

Read More..

Bahkan ketika ku tutup mataku, kau masih di sana

ada sejumput ilalang

tumbuh subur di dalam kepalaku.

tempat sketsa wajahmu bersembunyi bersama segerombolan kenangan yang

tak bisa dibunuh oleh jarum jam paling tajam sekalipun.




bisakah kau bayangkan?

betapa menyebalkannya dihantui oleh masa lalu yang

leluasa bernafas diantara celah-celah kesendirianmu.

Lalu ia berlari-lari; menari-nari...

Seperti peri nakal yang kesasar dan tak mau pergi.



Sementara aku terdiam, ia menatapku dan seakan bulan di matanya berkata :

"aku akan tinggal disini untuk waktu yang lama"



Dik, skestsa wajahmu itu,

memanglah peri liar yang selalu hinggap pada ranting-ranting rapuh dalam mimpiku.

Menyiksa manja dengan kepakan sayap indahnya

Mencakar kulit-kulit musim semi di kamar ku.

(namun aku begitu tau, tangis gerimis rinduku bahkan tak akan sampai ke plafon rumahmu).



Ilalang itu pun kian meninggi

seiring dengan keputus-asaanku...





Zazuli's
Banda Aceh, July 19, 2011

Read More..

Oh Shit, It's OSPEK!! (Part II)

WARNING : BAGI YANG GA SUKA DAN GA KUAT, JANGAN COBA-COBA BACA POSTINGAN INI. KARENA (LAGI-LAGI) BAHASAN KALI INI MASIH TENTANG TAIK.

Postingan ini sambungan dari Part I. *bagusnya dibaca dulu deh*

Gue disuruh boker di sungai. Ga pernah sebelumnya gue ngelakuin ini. Sungai adalah jamban terluas yang pernah gue bokerin.

"Lo boker agak jauh ke sana ya, disana sepi." kata abang panitia/senior itu.
Gue ngangguk.

Sebenernya gue rada-rada segan juga. Bukan karena takut ada ular, buaya, atau banci piranha, bukan itu.

Tapi arus sungainya mengarah ke para senior-tak-berdosa yang lagi nyuci piring sekaligus mandi dengan wajah polos bin ceria.



Sayangnya gue ga punya banyak waktu untuk mempertimbangkan keperimanusiaan gue. Gue ga punya cukup waktu untuk kompromi sama hati nurani gue. Waktu itu gue bener-bener ga peduli sesaat lagi kepolosan di wajah mereka akan hanyut bersama taik gue. Gue udah ga tahan!


REST IN PEACE SENIOR-KU TERCINTA!! HASTA LA VISTA!!
HUAHAHAHA >:D

...dan gue pun lansung *sensor* dan celupin pantat gue ke sungai. Adem...
Ga pernah gue boker senikmat itu.

Tiba-tiba gue merasa pantat gue kayak dicubit. Ternyata ada ikan-ikan kecil lagi gigitin pantat gue. *Ikannya itu genit atau maho sih?



Ga cuma itu...
Eek gue yang sedang berlayar ke arah senior yang lagi mandi tadi, satu persatu lenyap. Kemana? Di makan ikan-ikan tadi!
Berada di posisi seperti itu berasa kayak lagi nonton parodinya film piranha... :D

Melihat mereka makan dengan lahap, diam-diam gue tersenyum bangga. Gue mulai merenung, seindah itukah rasa taik gue?
...dan gue pun makin semangat bokernya. Memberi makan makhluk Tuhan adalah hal yang terpuji. *yihaaa! dapat pahala pagi-pagi

Di sela-sela kenikmatan itu, tiba-tiba datang seorang temen (si Upik) merusak ritual sakral gue pagi itu. Entah dia termotivasi melihat gue atau apa, tapi intinya dia juga sakit perut.

Terus dia pun ikutan jongkok di sungai. Saat itulah gue baru percaya bahwa hukum karma berlaku, taiknya dalam jumlah yang banyak MENGALIR KE ARAH GUE. Fuck

Dengan sigap dan heroik gue pun beranjak dari sungai. Anjrit, padahal boker gue belum tuntas. Si Upik malah cengengesan aja -__-" '
*lemparin bata*


***

Sorenya, pas acara penutupan, para mahasiswa baru disuruh duduk bersila di dalam sungai. Setengah badan tenggelam. Terus kitanya disuruh merem.

*Eh, ngomong-ngomong di kaki gue ada lintah. Dengan cepat seorang senior selamatin kaki gue dengan sendal jepitnya. Hampir semuanya histeris di waktu itu. SENDAL JEPIT CAN BE HERO! :D

Ngomong-ngomong lagi, lokasi pentupan itu adalah lokasi yang sama dengan tempat gue boker di pagi tadi. Untung aja airnya mengalir.

Meskipun begitu, ga bisa dipungkiri waktu itu gue agak paranoid kalo liat ada daun warna kuning terapung di atas air.

Ehm. Balik lagi ke topik.
Dengan posisi duduk bersila, setengah badan tenggelam, dan kami disuruh merem...
tiba-tiba kami disiram dengan sesuatu. Rasanya hangat, dan bauk.


Tebak, apakah itu?

Iya, pinter.
*kasih iPad 2*


Itu adalah taik, wahai saudara-saudaraku sekalian.
Lebih spesifiknya lagi, itu adalah taik lembu yang udah dicampur dengan isi perut kambing.

Bayangin gimana raga dan batin kami menderita. Bau banget soalnya!! Mau disemprot pake parfum satu galon juga ga bakal ngefek. Untung gue ga sesial beberapa temen gue yang taiknya itu sempat masuk ke mulut. HUEEEEEEKHH! >.<

Sampe sekarang gue masih ingat banget gimana aromanya. Ga enak. Anjrit.

***


Meskipun rambut gue harus dicepakin sehingga membuat gue jadi mirip Wentworth Miller(pemeran utama Prison Break versi kena-kanker-stadium-4), dari lubuk hati yang terdalam gue katakan, gue sama sekali ga nyesel ikut ospek. SERU!! So unforgettable... :p

Ini rambut gue setelah beberapa bulan ditebas. Gue sampe ga pede kalo kemana-mana.
*demi menghindari kekejaman dunia maya, muka sengaja gue sensor pake topeng*

Jadi, untuk anda-anda para spesies baru yang sedang dalam masa OSPEK, enjoy your moment and...have fun! >:D


*dear pembaca,
1. Penulis tidak bertanggung jawab kalo ada pembaca yang mual, muntah, dan jadi ga selera makan selama 1 minggu.
2. Maaf kalo ada banyak kata-kata yang ga sopan.
3. Cerita ini bener-bener nyata, cuma gue bungkus dengan sensasi humor aja.
4. Bagi yang ga suka...KAMPRET! GUE UDAH INGATIN DARI AWAL!

*dear seniors, I'm so sorry for the 'shit' :p

Read More..

Oh Shit, It's OSPEK!! (Part I)

WARNING : BAGI YANG GA SUKA, JANGAN COBA-COBA BACA POSTINGAN INI. KARENA BAHASAN KALI INI GA JAUH-JAUH DARI TAIK.


Oke, kita kembali ke 1 tahun lalu. Dimana gue waktu itu baru jadi anak Teknik dan terjebak dalam sebuah acara tahunan kampus yang bernama JEMUR (Jelang Minggu Rekreasi). Pesertanya itu MABA (Mahasiswa Baru).

Lokasi acara JEMUR waktu itu diadakan di Jantho, daerah pegunungan yang terdalam, terjauh, tempat jin dan setan beranak pinak.

katanya di acara JEMUR ini ga ada pelonco-peloncoan lagi. Katanya ga dibentak-bentak lagi. Katanya rekreasi! Katanya cuma senang-senang!



"ITU BOHOOONG... ITU PALSU"

***




Awalnya sih suasananya biasa aja, tapi berangsur-angsur berubah jadi ‘angker’ ketika malam tiba. Yang sebelumnya ga ikut ospek di fakultas disuruh baris, terus disuruh buka baju. *pelecehan berencana*



Gue yang ganteng ini juga ikut menghiasi barisan malang itu. Kita diintrogasi satu-satu sambil dibentak. Persis kayak majikan lagi marahin pembantunya yang ga sengaja udah pecahin pot bunga.

“KENAPA LO GA IKUT OSPEK DI KAMPUS KEMAREN?!!”

Nah, di sini yang ga enaknya, itu senior teriak-teriaknya cuma SETENGAH JENGKAL DARI MUKA GUE. Gue jadi geli ngeri. Berasa kayak mau dicipok. Lain cerita kalo seniornya cewek. Lain cerita kalo senior-ceweknya cakep. Lain cerita kalo senior-cewek-yang-cakep itu jomblo. Lain cerita kalo senior-cewek-yang cakep-dan-jomblo itu nafsu suka liat gue. Gue pasti bakal enjoy-enjoy aja :D

Tapi kali ini gue ga bakal ceritain tentang gimana gue disiksa pas ospek berlangsung. *malu-maluin*

Gue cuma bakal lebih fokus ceritain hal yang paling berkesan (buat gue) pas di JEMUR dulu.


WARNING LAGI : BAGI YANG GA SUKA DAN GA KUAT, SILAHKAN TUTUP POSTINGAN INI. KARENA BAHASAN KALI INI GA JAUH-JAUH DARI TAIK.


Ceritanya, kami bermalam di Jantho. Lebih spesifiknya lagi, kami bermalam di sekolah SD yang udah ga dipake lagi. Ini bisa dibilang berkemah tanpa kemah.

Setelah semalaman di‘tindas’ oleh senior (bayangin, rata-rata kami cuma tidur 1 jam!), pas paginya kami para MABA sarapan dibawah tenda dengan bubur kacang ijo buatan panitia. Posisi : duduk lesehan di atas tikar.

Ternyata do’a gue tadi malam ga terkabul, perut gue berulah lagi. Ini do’a gue di malam sebelumnya :


“YA ALLAH, KUATKAN BAIM YA ALLAH...JAMBAN DISINI JOROK DAN GA ADA AIRNYA...”
*kok Baim? Baim itu siapa? Pantesan ga dikabulin -___-“

Gue emang ga biasa sarapan. Kalo di pagi hari ada makanan yang masuk ke perut gue, ga lama kemudian pasti gue sesak boker. Ga masalah kalo lagi dirumah, nah ini? Gue sedang berada di hutan belantara yang mungkin di peta aja ga ada! *lebaaaaaaaaaaaaay

Sesak boker. Yup, hal yang gue takutkan terjadi juga di pagi yang cerah itu.
*bohong, mendung kok.

Gue tatap piring gue, buburnya masih banyak. Gue coba bertahan meskipun udah kentut berkali-kali. Dengan posisi duduk bersila kayak gitu, gue heran kenapa ga ada yang curiga ngeliat gue jadi sering miring-miringin badan. Untung kentutnya ga bau, untung ga bunyi. Gue liat mereka masih lahap-lahap aja makan bubur itu tanpa merasa terancam jiwa dan raganya.

#nowplaying : Vierra – Perih
“...aku kan bertahan meski tak kan mungkin....”


Gue coba bertahan sekuat yang gue bisa, tapi...takdir berkata lain. Gue nyerah. Dengan penuh keberanian gue pun melapor ke senior, sambil bisik-bisik.

"Bang, aku sakit perut nih bang"
"Sakit perut? Mau boker lo??"

Gue ngangguk dengan antusias. Udah ga tahan. Pribahasa “bagai eek diujung pantat” sangat cocok untuk kondisi gue di kala itu.

Dengan segala kebiadapannya, si senior teriak :

“WOY PANITIA! INI URUSIN ADA YANG DIARE!”

#nowplaying : Afgan – Sadis
"Terlalu sadis caramu..."



Shit, para senior dan panitia JEMUR (senior juga sih) pada ketawa liat gue. Bukannya dikasihani.

SADIS.

1. Gue ga diare.
2. Padahal gue sengaja bisik-bisik biar ga ada yang denger
.

Ga tau deh seberapa dahsyat imajinasi temen seangkatan gue, tapi gue yakin mereka mulai ga selera sama bubur yang lagi mereka telan. Ada diantara mereka yang dengan terang-terangan nunjukin ekspresi ga enak.

Yang jelas, gue emang malu banget waktu itu. Rasanya kayak tertangkap basah sama cewek paling-cakep-di-kampus pas lagi ngupil diam-diam. Setiap image cool yang udah capek-capek gue bina jadi punah!

To Be Continued....

Read More..

Lou : "Everyone's Got Their Own Way..." Part II


Postingan ini sambungan dari part I.

Gue : “Lo mengalihkan rasa sakit yang ada di hati lo ke lengan lo sendiri?”

Lou : “Maybe...”

Mengalihkan rasa sakit. Semua orang punya cara sendiri untuk itu, biar rasa sakit di hatinya jadi terlampiaskan. Ada yang nulis puisi, ada yang curhat ke temen, ada juga yang minum-minum sampe mabuk. 


Waktu kecil dulu, kalo ada yang buat gue kesal, biasanya gue lari ke kamar terus nonjok-nonjokin bantal sampe puas. Dan itu buat gue jadi merasa lebih baek. Tapi ada yang lebih parah, temen gue ada yang nonjokin cermin. *korban sinetron*
Ada juga temen yang nonjokin orang laen. *nah, yang ini korban film action*
Ada lagi temen yang nonjokin orang di game, GTA misalnya. *yang ini gamer*

Gue ga tau darimana Lou dapat metode menghilangkan rasa sakit yang aneh ini, apa di Jerman juga ada sinetron?

“Makasih ya udah denger gue curhat” katanya setelah puas gue introgasi. Gue emang tertarik banget sama jalan pikiran manusia yang cukup variatif. Ya, apa yang ada di otak manusia itu memang menarik banget untuk dipelajari. *ngomong gini berasa kayak alien*

“Sama-sama...tapi gue berharap banget lo bisa berhenti ngelakuin itu suatu hari...” sambung gue. Gue sama sekali ga ngedukung dia untuk ngelakuin itu. Pengen banget rasanya gue cegah dia. Tapi bisa apa gue? walaupun keliatannya kami cuma terpisah oleh monitor, tapi sebenarnya kan kami terpisah ribuan kilometer jaraknya.

Gue : “Masih ga percaya...Seseorang yang gue kenal ngelakuin itu, gue kira cuma ada di pelem doang..haha”

Lou : “Sorry..tapi dunia ini ga sempurna :)”

Gue : “Kenapa lo ga potong rambut, cukur kumis, cabut bulu ketek, cabut bulu idung, nangis, atau yang laen-laen aja?”

Lou : “Semua orang punya caranya sendiri...diantara mereka ada yang nemuin cara yang buruk. Bersyukur deh lo punya cara yang lebih baek.”


****

Cuma ada 1 kata untuk lo yang baca ini : “DON’T TRY THIS AT HOME!” *eh, itu udah 5 kata ya? Bodo ah! -__-"
Gue ga mau gara-gara lo baca ini lo malah ikutan-ikutan gilak. Ga ada yang keren dari gores-gores tangan lo sendiri pake silet. Yang udah terlanjur gimana? Ubah pelan-pelan dong. Cari pelampiasan laen yang lebih sehat dan...normal.

Oya, gue udah minta izin sama dia untuk posting ini kok.

Dear Lou, if you read this, please find another way to kill your pain. A ‘safe-but-healing’ way :)


Read More..

Gimanapun, orang gila tetap orang gila


Begini ceritanya. Dulu (pas SMA kalo ga salah) abang sepupu gue berkunjung ke Bireuen (kota asal gue). Malamnya dia ngajak makan di luar.

Selesai makan, seperti biasa gue harus denger ocehan dia yang menyebalkan. Kali ini yang dia ceritain (lagi-lagi) tentang kuliahnya di UGM. Dia bercerita dengan mimik bangga setengah mampus. *gak, gue gak sirik
Rasanya pengen banget gue tampar lidahnya itu dengan sepatu, tapi apalah daya waktu itu gue lagi pake sendal.




Ga lama kemudian, tanpa gue sadari tiba-tiba di depan kami udah berdiri orang gila paling 'ngetop' di Bireuen. Saking ngetopnya hampir di setiap bulan puasa dia jadi sasaran ejekan anak-anak yang bolos taraweh. "Doka-i bauk taik! Doka-i bauk taik!". Seperti hukum aksi reaksi, dia ngebales anak-anak itu dengan lemparan batu. Oh ya, namanya Doka-i. (ga tau apa bener cara nulis namanya kayak gitu, Doka-i kah? Atau Do-ka-i? Pokoknya cari ngucapinnya dipisah-pisah : Do..ka..i)




Suasana pun jadi horror. Gue dan sepupu gue kaget. Bener-bener kaget. Lebih kaget daripada orangtua yang liat IP anaknya dibawah 3. Tapi beruntung, ga lama kemudian dia langsung pergi.

Belom sempat gue sujud syukur, dengan segenap 'kegantengan'nya si Doka-i balik lagi. Tatapannya mengarah ke atas meja. Pandangannya kayak cewek lagi liat tas cantik dari luar jendela Mall.




Tiba-tiba tangannya menjulur. Pola gerakannya mau ngambil sesuatu di meja. Itu momen slowmotion yang paling horror dalam hidup gue. *lebay



And...U know what? Di atas meja, ada beberapa barang berharga. Benda yang menurut gue paling mungkin di comot si Doka-i ini ada 4 kandidat : Hp, kunci mobil, rokok, dan dompet.



Gue jadi parno. Sepupu gue panik. Lebih panik daripada mahasiswa yang dengerin pengawas teriak "5 menit lagi!" pas sedang ujian, sedangkan lembar jawaban masih kosong.

Setelah gue perhatiin baik-baik, 4 barang yang gue sebutin diatas ga ada satupun yang hilang. Karena yang diambil si Doka-i ternyata adalah ayam sisa dari piring sepupu gue.  


AYAM!! BIKIN PANIK AJA LO, GILA!!




...dan si Doka-i pun beranjak pergi dengan paha ayam goreng yang hampir tinggal tulang itu. Tampang ga bersalahnya bener-bener buat kami berdua ga bisa ngomong apa-apa.

Melihat barang berharganya selamat, sepupu gue remas-remas ngurut-ngurut dadanya sendiri. Mukanya lebih lega daripada orang yang baru selesai boker setelah tertunda 3 jam di bus. Gue? Gue shock berat. Sama shocknya dengan nyokap pas liat IP gue cuma 2, 5 (apaan sih  ini daritadi IP mulu?!).
Kenapa shock? Ga nyangka aja ternyata yang diambil itu ayam sisa. Padahal gue ngarepnya si Doka-i ngambil dompet atau kunci mobil, jadi ceritanya bisa lebih keren. *PLAK


Gimanapun, orang gila tetap orang gila. Dari sini gue belajar sesuatu, kalo mau bedain seseorang gila atau ga, cukup suruh dia untuk milih 5 benda : hp, kunci mobil, rokok, dompet, dan ayam sisa. Terus tinggal liat dia ngambil yang mana. Kalo yang diambilnya ayam, berarti bisa ditarik kesimpulan kalo dia udah gila.
*info sesat *ga penting

Read More..

Lou : "Everyone's Got Their Own Way..." Part I

Di postingan kali ini gue agak lebih serius dibandingkan postingan sebelumnya.

Ini tentang temen chatting gue. Seorang cewek labil dari Jerman yang bernama Louise. Tapi gue lebih suka panggil dia Lou. Kami ga sengaja ketemu pas lagi chatting di dunia maya. Sayangnya, cuma bisa di dunia maya.

Jadi? Kenapa dengan dia? Dia cucunya Hitler?
Bukan...!
Ga ada yang menarik tentang dia, dia ga cakep-cakep amat (kecuali pas lagi senyum), bahasa inggrisnya juga pas-pasan kayak gue.

Satu-satunya yang buat gue betah lama-lama skype-an sama dia, adalah ketika gue hitung 1...2...3...” entah apa sebabnya dia pasti bakal senyam-senyum kayak orang gila, mukanya jadi merah dan dia cuma bisa bilang
“Shit, can you just stop it?” sambil tutupin webcam-nya dengan tangan. Dan gue tetap ga berhenti. ‘Menyiksa’ orang dengan membuat mereka tersenyum itu...menyenangkan :D

Ya, selama ini, cuma itu yang paling unik dari dia. Cuma itu...

Sampai beberapa malam yang lalu...kami chatting kayak biasa, dan tiba-tiba...

“Have you ever cut your arm...?” katanya, eh, tulisnya. Kan lagi chatting :p

“What? HELL NO! ...have you?” dan perasaan gue pun mulai ga enak.

Setelah gue desak dan janji gue ga bakal marah, akhirnya dia cerita sesuatu ke gue. Sejak dua bulan terakhir, dia jadi punya kebiasaan yang...GA NORMAL. Katanya, setiap kali dia sedih, dia suka iris atau potong lengannya gitu dengan benda-benda tajam.
*Ga sampe putus lah pastinya, kalo ga mana mungkin dia chatting sama gue.

Mendengar itu, gue ga shock kayak gimana sih, karena gue pernah baca tentang penyakit ini, nama penyakitnya Self-Injury. Gue juga pernah liat yang kayak begituan di film. Judul filmnya “Spongebob Squarepant” "Secretary" kalo ga salah. Yang buat kaget yaaaa karena yang ngelakuin itu adalah orang yang gue kenal. *walaupun kenalnya sebatas dunia maya.

Lou : “Iya iya, gue tau gue gila...” *gue terjemahin aja*
Gue : “Ga, lo ga gila Lou...tapi cuma ada yang ga beres aja...”

Disini gue jadi teringat dialog di film Social Networking, “Kamu ga jahat, Mark...kamu cuma mencoba untuk menjadi jahat”. Gue juga rencananya mau bilang hal yang senada ke dia, “Lo ga gila Lou, lo cuma mencoba untuk menjadi gila”. Ujung-ujungnya ya itu, gue cuma bisa bilang “...cuma ada yang ga beres”.

Jelas lah ada yang ga beres. Biasanya cewek kalo lagi sedih kan mereka nangis, curhat, atau paling tidak kalo di jaman sekarang ‘update status’. Gue udah saranin untuk konsultasi sama dokter hewan psikiater gitu, tapi katanya dia baek-baek aja. Apanya yang baek-baek aja? You just kill a pain with another pain -__-"


To be continued.... JRENG JREEEEENG! belom tidur


Read More..

Enggak, enggak... Gue ga sombong....


Kalo ketemu gue di jalan; di toilet umum; di kuburan; atau dimana aja, terus gue nya ga negur duluan, atau gue nya buang muka (kasian ya muka ganteng-ganteng gini dibuang :p), itu bukan karena gue sombong. Gue sendiri ga pernah bermaksud gitu.

Ini alasan gue :

1. Gue pemalu
Dari SD gue emang udah jadi seorang hikikomori yang suka ngurung diri di kamar dan tenggelam dengan dunianya sendiri. Jangankan jumpa sama orang, liat matahari aja gue jarang. Ga heran tetangga di kampung halaman pada ga kenal sama gue, padahal pas usus buntu dulu keluarga gue udah lebih dari 3 tahun tinggal di lingkungan itu.


Tetangga  : “Anak ibu Si Diva usus buntu ya?
Nyokap     : “Bukan si Divanya, tapi abangnya si Diva
Tetangga : “EH...? EMANG SI DIVA PUNYA ABANG?” *shock*
Nyokap    : “....

Gue jarang berinteraksi dengan dunia lain luar, sehingga kemampuan bersosial gue emang minim banget. Karena Itulah kenapa sekarang gue jadi seorang pemalu, gue ga pinter basa-basi, ga pinter memulai pembicaraan, kagok kalo ketemu orang baru, dan ga pede kalo lagi di keramaian. Itu juga kenapa sumpah mati gue ga mau jadi dokter. Tapi sejak SMA pelan-pelan gue mulai belajar untuk bersosial kok. And, you know what? social networking is really work for someone like me.


2. Mata gue agak rabun
Gara-gara komik dan monitor komputer, mata gue jadi ga berfungsi dengan baik. Itu kenapa kalo gue ketemu sama seorang temen kadang-kadang gue nya maen buang muka aja. Orang guenya ga tau kalo itu adalah dia. Ga keliatan! Sumpah!


3. Ingatan gue parah
Someone  : “Eh ki! Apakabar lo?
Gue            : “Baek..hehe...lo sendiri apa kabar?
*dalam hati  : “Ini siapa ya familiar banget"*

Mungkin karena keseringan begadang, memori gue jadinya jangka pendek. Jadi kalo gue jumpa sama orang yang baru aja gue kenal bulan lalu, atau kalo gue jumpa sama temen yang udah lama ga ketemu, gue jadi bertanya-tanya siapa yang lagi bicara sama gue sekarang.

Biar kesannya gue itu belom lupa sama dia, gue lanjutkan dengan ngomong begini...
Kalo someone itu cewek : “Eh, UDAH kurus ya lo SEKARANG...
Kalo cowok : “lo udah rajin fitness ya? BEDA banget badan lo dengan yang DULU


4. Suka ga ngerasa

Gue traumaan orangnya. Pernah sekali, gue merasa ada yang manggil gue, padahal yang dipanggil itu si kakak penjual pangsit di belakang gue. Sejak itulah, kalo emang orang yang manggilnya ga keliatan, atau gue ga kenal, gue langsung beranggapan 'gue kepedean... bukan gue yang dipanggil'.
dan sejak itu juga, kejadian kayak ilustrasi diatas mulai sering terjadi ._.


5. Ga Fokus
Gue      : “Ayah ayah, pintu pagarnya sejak kapan dicat baru?
Bokap : “Selama ini kamu kalo keluar rumah, keluarnya lewat mana sih? Udah 2 hari yang lalu
Bokap bilang gue apatis, gue ga peka, dan beliau ga sepenuhnya salah. Orang-orang yang dominan otak kanan kayak gue sering sibuk sama imajinasinya sendiri, pikirannya entah melayang ke mana-mana. Itu juga kenapa kalo jumpa sama seseorang gue ga sadar dia ada disana.

***

Sorry banget untuk orang-orang yang pernah sakit hati karena sikap gue.
Tapi sumpah gue ga bermaksud apa-apa, emang udah bawaan gue begitu. Gue tau banget itu ga baek, karena itu gue selalu berusaha untuk berubah....so sorry guys T__T

Read More..

Jodoh, Jodoh, Jodoh...


Let's stop talking about 'pacaran' dulu. Kali ini gue bakal ngebahas sedikit agak lebih jauh ke depan : nyari kos-kosan baru jodoh

Pernah kan kadang-kadang pas lagi ngelamun di toilet atau dimana aja, tiba-tiba kita kepikiran siapa yang bakal jadi jodoh kita nanti? Kalo gue sih emang sering banget. *jomblojomblojomblojomblojomblo

Bisa jadi cewek yang jadi jodoh gue nanti adalah orang yang belum gue kenal,
atau justru orang yang udah gue kenal dari dulu. Misalnya temen pas TK, yang gue sendiri udah lupa wajahnya (jaah, sama aja kayak ga kenal).
Bisa jadi dia lagi lalu lalang di depan gue sekarang, dan gue ga sadar.
Bisa jadi dia udah lama ada di friend request fb gue, dan sampe sekarang belom gue konfirmasi cuma karena foto profilnya pajangin gambar Justin Bieber atau personil SM*SH. *PLAK!!

Bisa jadi dia adalah bocah 4 tahun yang tiap sore sering maen sepeda di depan kosan gue, dan ga taunya pas udah gede malah nikah sama gue. Shit, ga mungkinlah, bocah itu kan cowok. -__-"
Bisa jadi, dia adalah bule dari belahan benua lain terus ketemunya pas gue ngambil S2 di negaranya. *kayak iya aja

Bisa jadi dia lagi ngebaca blog ini. Bisa jadi dia sepupunya orang yang lagi ngebaca blog ini. Bisa jadi dia adalah orang yang lagi di sebelah orang yang lagi ngebaca blog ini
*ga tau deh apa ada orang di sebelah lo. Kalopun ada, semoga itu manusia, dan cewek. Bukan pocong waria atau Om om brewokan.

Bisa jadi jodoh gue ternyata belom lahir, atau... ternyata udah mati duluan? *ngok
Bisa jadi....Kok ini dari atas 'bisa jadi bisa jadi' mulu ya?? :D
malah gue yang mati duluan sebelum gue sempet tau nikah itu kayak gimana. Ini hal tragis yang sangat gue takutkan. Yang ini kalo bisa jangan deh.

Andai aja Tuhan kasih gue gambaran gimana wajah jodoh gue nanti. Sketsanya aja juga boleh. Soalnya gue penasaran banget dan selalu bertanya-tanya gimana itu wujudnya.

Apa rambutnya panjang, cepak, lurus, atau keriting?
Hidungnya mancung kayak polisi tidur apa pesek kayak selokan? *kayak selokan??
Bibirnya gimana? Luna Maya? Rossa? Omas? Senyumnya bikin meleleh ga?
Terus....
Ah, ya...bodynya! Kira-kira bodynya gimana ya?
Kayak gitar spanyol, kayak biola, kayak tusuk gigi atau kayak kulkas?
Terus kulitnya putih kayak mayat atau gelap kayak aspal?

Kalo tidur ngorok apa enggak?
Gue yang seorang pecinta ketenangan pasti ga bakal betah punya bini berhidung genset. Mending tidur di garasi deh. Selingkuh juga gue ujung-ujungnya --"

Suaranya, lembut atau kayak donal bebek?
Terus ketawanya gimana? Kayak kuda lagi nonton Mr. Bean, apa kayak monyet keselek duren? *ga usah repot-repot ngebayangin itu gimana, gue sendiri juga ga tau.

Pinter masak ga ya? Gue yang 'ramping' ini otomatis membutuhkan istri yang ngerti selera gue. Soalnya cita-cita atau rencana jangka panjang gue adalah : gemuk.

Cerewet ga ya? Terus kalo gue baru pulang kerja (semoga gue ga jadi kuli bangunan), dia bakal sambut gue dengan pelukan atau malah nyuruh gue benerin genteng?

Pertanyaan-pertanyaan kayak di atas selalu terngiang-ngiang di otak gue kayak suara tokek. Apa karena gue yang terlalu idealis?? berharap jodoh gue adalah sosok yang sempurna?
Woy, gue tau nobody's perfect, tapi apa salahnya gue punya mimpi.

Coba aja gue tau siapa orangnya, gue ga perlu nunggu atau sortir-sortir lagi di people you may know-nya facebook, dan pertanyaan di atas juga bakal terjawab.
Terus, tinggal kenalin ke ortu deh.

Nah kalo udah ke tahap kenalin ke ortu, ntar nyokap pasti nanya ini dulu nih : 'dari suku mana?'
Paling nanti gue jawab 'dari surga kok, ma...'
*nyengir

*buseett, ga nyangka udah nulis sepanjang ini o.o

Read More..

1 Bulan yang Paling Menyiksa


"Akhirnya libur juga."
Kalimat itu bakal diucapin oleh para mahasiswa yang -menurut seorang pemalas kayak gue- adalah makhluk paling beruntung di dunia.
Di dunia gue, tentunya.

Tapi, kalimat "Akhirnya libur juga" itu, kalimat yang saat ini lebih berarti buat gue daripada kalimat 'aku juga kangen kamu' itu,
ga bakal terucapkan dari mulut gue. Ga untuk kali ini.
Kenapa? Karena gue harus mengorbankan liburan kali ini buat ngambil semester pendek, demi memperbaiki nilai Kalkulus I dan nilai Kimia gue semester ganjil kemaren yang hancur lebur kayak muka Tukul agak-sedikit-kurang bagus.

Nyesek. Ketika sebagian orang pada sibuk mikirin 'liburan-ini-gue-kemana-ya?', dan sebagian orang yang lain lagi pada pulang ke kampung halamannya, gue justru tetap harus stay di kota terkutuk ini!
Gue tetap harus cuci piring sendiri di kosan, gue tetap harus nganterin baju kotor ke laundry,
gue tetap bisa merokok di kamar tanpa harus takut ada yang ngomel -uhm..well, that's the best part-,
gue ga bakal terkena sindrom lupa hari (sebagai paramater seberapa menyenangkannya sebuah liburan), gue masih harus ngerasain musibah akhir bulan,
dan yang paling gue benci, gue tetap harus bangun pagi. Oke, ga selalu emang... tapi intinya bangun-untuk-kuliah itu ga enak.
Gue jadi teringat masa-masa indah pas terakhir kali liburan panjang kemaren, saking indahnya setiap gue bangun tidur gue selalu bingung bedain ini jam 7 pagi atau jam 7 malam.

Nah, tau apa yang bisa buat lo dongkol pas lo lagi di posisi kayak gini?
yaitu dengerin orang-yang-ga-bersyukur ngeluarin statement "ini liburan paling suram karena gue ga tau mau ngapain"
F*** you guys, gue bahkan ga sempat ngerasain liburan!!
Oke, gue tau ga lama lagi gue juga bakal libur, tapi cuma sebentar. Bukan liburan semester namanya kalo cuma sebentar.

Tapi cuma ada satu hal yang paling buat gue menderita. Lebih menderita daripada dikurung di ruangan tertutup sambil dipaksa nonton video klip Justin Bieber tanpa henti.
Kenapa gue bilang gitu, karena dosen Kalkulus I-nya ternyata adalah dosen yang sama dengan dosen Kalkulus II di semester genap.
Dialah dosen yang berperan penting dalam menjadikan hari senin adalah hari yang gue benci.

...dan penderitaan gue ga berhenti sampe disitu. Masih dengan permasalahan dosen yang ga asik, rupanya dosen kimia-nya jauh lebih killer dari si dosen Kalkulus tadi.
Inilah satu bulan yang paling menyiksa dalam sejarah hidup gue, gue jadi ragu bakalan survive. Damn

Read More..

Puisi : Untuk Seseorang

Harus ku apakan bahuku
Yang kosong
dan berdebu
Sebab kepalamu tak akan pernah lagi bersandar disana.
Kini kau sudah temukan pelangimu sendiri
Pelangi yang mengajarkanmu tersenyum dengan cara yang lebih indah.

Pena yang tertidur, dan catatan bisu di atas meja
(yang sama sekali tak punya satupun kisah untuk diceritakan)
akhirnya membuatku sadar..
ternyata takdirku adalah kesunyian.

Tahukah engkau?
Kadang aku rindu keningmu itu
Kadang aku rindu pada matamu yang selalu menatapku dengan cara yang tak biasa
(mata indah itu, sudah menjadi milik pria yang lain)

Tapi jika aku bisa memutar waktu sekalipun,
Aku tidak akan mengubah apa-apa
Aku tidak akan mencegahmu pergi atau memintamu kembali
Karena aku kira semua yang terjadi memang sudah semestinya.
Mimpi-mimpi itu
memang bukan milik kita.
Termasuk keabadian yang dulu sering kita perbincangkan.
***

Dik, aku tak tahu apakah kau peduli
dan aku tak peduli apakah kau tahu
tapi aku rindu akan rindumu


Zazuli's
Jun 14, 2011

Read More..

There is 'F' in 'Final'... as well as there is 'F' in 'F*ck'


Minggu ini, adalah minggu terberat. Karena bencana final (UAS) sedang melanda dan merusak waktu santai gue. Istilahnya kalo di analogikan ke dunia nyata, final adalah pihak ketiga yang merusak hubungan antara gue dan tempat tidur.

Untung aja si tempat tidur selalu bisa maafin gue. Dia ga sensitif, dia ga cemburuan, dia selalu nerima gue walaupun gue udah terpaksa selingkuh sama si final. Makasih sayang :')
*mahasiswajomblo

Pas masih SMA, kalo gue dengar kata 'final', yang terbayang di kepala gue adalah momen ketika orang-orang lagi ngumpul melototin TV bareng-bareng sambil teriak-teriak ga jelas di tengah malam. >>Nonton bola.

Tapi semenjak kuliah, bayangan seperti itu punah. Sekarang, buat gue, final adalah ketika gue harus berada di sebuah ruangan tertutup sambil melototin sekumpulan soal yang buat gue...terpana, terpaku, dan diam seribu bahasa. Berasa kayak Patung Jendral Sudirman yang lagi kehujanan : kaku dan berkeringat. Belom lagi kalo mata kuliah yang diujiankan berada dalam kategori 'angker'; terus bahan untuk belajarnya ga lengkap; contekan ga keluar; teman ga kooperatif; dan pengawas sok garang. Mati aja!

dan semenjak kuliah, gue pun akhirnya tau bahwa final itu kalo dalam kamus bahasa SMA-nya adalah ujian. Ribet-ribetin aja -_____-"

Yang sekarang jadi beban adalah, gue ga yakin IP gue semester ini bakalan bagus.
Sorry Mom, Sorry Dad
"Final bikin mabok >> Semua yang memabukkan haram >> Jadi, final itu haram"

Read More..

Alasan 'Logis' Kenapa Kami Jomblo


Begini ceritanya, konon bapak kos di kosan gue usianya udah 40 tahunan tapi masih belum kawin-kawin. Dasar jomblo keladi

Awalnya sih gue positif thinking aja, dan kejombloannya itu ga ngefek apa-apa sama gue. Who care, right? Gue ya gue, dia ya dia. Lain cerita kalo gue disodomi

Sampailah suatu waktu, seseorang yang sering maen ke kos, sebut aja namanya Isan (emang itu nama aslinya), memberi sebuah fatwa konyol yang buat gue shock.
Fatwa yang menguak misteri kenapa gue dan 6 orang lain di kos ini bisa jomblo semuanya.

"Itu kutukan!"
Yup, kutukan..kutukan dari si bapak kos.
"Kalian harus cepat-cepat pindah dari rumah ini."

Buset. Setelah beberapa kali keluar masuk toilet dan gue renungin baik-baik kata temen gue, kayaknya bener juga. Gue aja yang udah pacaran 3 tahun langsung putus begitu gue tinggal dirumah terkutuk ini. Dapat yang baru juga ga bertahan lama. Temen-temen kamar sebelah juga nasibnya sama. Adaaa aja kejadiannya yang membuat kami ujung-ujungnya pada jomblo. Seakan-akan ada kekuatan mistis yang ga mengizinkan kami punya pacar.
*lebay

Iya sih, pada awalnya emang gue yang niat jomblo. Tapi lama-lama suntuk juga, bosan juga, gerah juga kalo harus ngejomblo terus.

Gue ga tau kenapa si bapak kos bisa setega itu. Apa dia marah karena kami males buang sampah? Apa dia kesal karena kami sering telat bayar uang listrik? Apa dia dendam karena setiap kali maen gaplek dengan kami dia selalu dicurangin? Apa karena dia takut, ntar ga ada yang ajarin dia buat facebook atau perbaiki printernya lagi karena kami sibuk pacaran? Apa jangan-jangan..dia homo? o.o

Apapun alasannya, awal semester 3 nanti pokoknya gue pindah. GUE PINDAH!
Gue ga mau ngekos disini lagi. Cukup deh gue pelukin bantal guling tiap malam sambil berkhayal kalo itu adalah seorang cewek yang jadi pacar gue.

Read More..

Kadang Jomblo Juga Ga Enak


Postingan kali ini lumayan-agak-sedikit melo. Ungkapan isi hati seorang jomblo yang hatinya sedang tidak terisi.

Dulu setiap kali gue pelukin orang yang gue sayang; genggamin tangannya (ga peduli dia baru ngupil apa kagak); tatapin matanya; atau ciumin keningnya; gue selalu merasakan sensasi 'jatuh-dari-tebing'. Sensasi yang ga bisa gue gambarkan dan kalian ga akan tau rasanya kecuali kalian beneran jatuh dari tebing kecuali kalian jatuh cinta. Adrenalin meningkat, detak jantung makin cepat dan melambat disaat yang sama, dan itu adalah hal yang menyenangkan! Kira-kira kayak waktu lagi bungee-jumping lah. (Sebentar, kenapa setiap kali orang ngucapin bungee-jumping yang terdengar di kuping gue malah banci-jumping?)

Semenjak gue jomblo, gue hampir lupa gimana rasanya sensasi jatuh-dari-tebing itu, karena gue udah ga pernah merasakan hal semacam itu lagi (kecuali pas GA SENGAJA nonton FTV atau film-film yang ada adegan romantisnya, contoh : The Simpsons).

Emang sih, gue sendiri yang milih untuk jomblo dulu (jomblo itu pilihan, ga punya pacar mutlak). Ga ada yang gangguin, ga ada yang repotin, ga ada yang minta jemput di jam tidur siang gue, ga ada yang ngomel kalo gue merokok, pokoknya asik. Bebas. Tapi kadang-kadang gue kesepian juga.

Gue kangen saat-saat dimana ada yang rapiin rambut gue (yang memang ga pernah disisir). Gue kangen sama aroma shampoo seseorang yang lagi gue pelukin, pas dia baru selesai mandi.

Gue kangen ada seseorang yang SMS gue tengah malam, ngadu ke gue kalo dia ga bisa tidur gara-gara perutnya sakit karena datang bulan. Gue kangen ada seseorang yang cemburu ngeliat gue ngomong sama cewek laen. Gue kangen ada seseorang yang setiap 1 jam sekali bilang dia kangen gue sampe-sampe gue muak dengerinnya. Karena disaat-saat seperti itulah gue merasa dibutuhkan.

Iya emang, jomblo itu menyenangkan, jomblo itu anugrah, tapi tetap aja ada ga enaknya. Difitnah homo, ga laku, atau bahkan ditinggalin temen yang punya pacar. Bayangin, malam minggu temen-temen jalan sama pacarnya sedangkan gue ngurung diri di kamar sambil nonton film bajakan di laptop. Beruntung temen gue lagi banyak yang jomblo, jadi gue masih bisa ngopi bareng mereka di warkop (dan semoga mereka tetap jomblo selamanya).

Ah, biar gimanapun, gue tetap pengen sendiri dulu sampe gue bener-bener nemuin seseorang yang tepat. Gue ga mau terburu-buru dan salah pilih lagi.
Walaupun sekarang bahu gue kosong dan ga ada satupun yang sandarin kepalanya di sana,
gue yakin, disuatu tempat, ada seseorang yang lagi nunggu gue. Menunggu untuk ditemukan.

Posisi gue sekarang hampir sama kayak Adam pas dia lagi kesepian di surga. Terus dia curhat di blog. Terus diam-diam Tuhan ciptain Hawa dari tulang rusuknya.
Pertanyaannya adalah, siapakah tulang rusuk gue? Siapa yang bakal jadi Hawa buat gue?


"Kami adalah pria-pria kesepian, jauh dari rumah dan ditinggalkan cinta. Coba dengar keluhan kami, pria kesepian..."
~Sheila On 7 - Pria Kesepian

Read More..

Hal-hal yang Buat Gue Sering Terlambat ke Kampus



Setiap gue ke kampus, si dosen pasti udah bertengger jauh lebih dulu di ruangan. Okelah kalo dosennya cuek. Kalo dosennya sok disiplin, bayangan gue muncul di pintu aja tatapannya udah kayak singa liat daging. Yang parahnya lagi kalo gue sampe di usir.
"You Late, boy! Get the F*cking Out!"


Ini alasan kenapa gue sering ngaret (dominan kalo kuliah jadwalnya pagi) :

Mata gue terbuka 5 menit sebelum alarm bunyi
Gue orangnya rada-rada perfeksionis, disiplin, atau apalah namanya. Kalo gue udah set alarmnya jam segitu, itu artinya gue emang niat bangun jam segitu. Titik. Jadi kalo mata gue duluan melek, gue bakal lanjutin lagi tidur gue. Yang tololnya ironisnya, setelah hal ini terjadi mata gue jadi susah kebuka sampe gue sadar kalau gue udah terlambat. Damn it

Gue lupa set alarm
Ini yang paling gue takutin. Sifat pelupa gue sangat destruktif, nyaris di setiap aspek kehidupan gue. Mulai dari lupa kalau ada ujian, lupa nama orang, lupa wajah orang, lupa janji mau ketemuan, lupa ngutang sama siapa aja, lupa siapa aja yang ngutang, lupa makan siang, lupa mau beli apa di supermarket, lupa hari ulangtahun ortu. In this case, gue lupa set alarm sampe-sampe gue lupa bangun!

Mimpi gue terlalu indah
Hidup gue suram, jadi wajar aja kalau gue lebih betah lama-lama di dunia mimpi (mimpi indah tentunya). Ini adalah faktor terbesar kenapa kadang-kadang kuping gue jadi budeg dan alarmnya ga kedengaran.

Gue boker kelamaan

Dikarenakan pencernaan gue yang dari kecil udah ga beres, gue punya semboyan "Jangan bergerak sebelum boker".
Hampir semua orang setuju, boker di kampus adalah tragedi. Jadi demi keselamatan hidup dan martabat gue, sebelum berangkat gue boker dulu di rumah sampe bener-bener tuntas. Rutinitas ini bisa memakan waktu lebih dari 15 menit. It's okay kalo gue bangunnya on time, kalo bangunnya telat? Ya makin telat gue muncul di kampusnya.


Terjadi kejadian laen yang ga diinginkan
Hilang kunci motor, kehabisan bensin, tabrak nenek-nenek lagi jogging, ditilang, ketinggalan dompet atau hp sehingga gue harus balik lagi ke kos (walaupun dompetnya kosong, walaupun hp-nya ga ada pulsa, tetap harus bawa pokoknya!), lupa bawa tugas yang mau dikumpulin, ada temen yang minta jemput, lalu lintas terlalu padat, dan hal-hal lain yang menghambat gue ke kampus.


Emang ga niat
Kalo matakuliahnya gue ga suka, dengar namanya aja males. Apalagi untuk datang ke kampus, kalo datang juga buat ngabsen doang. Jadi alam bawah sadar gue membuat gue berada dalam mode 'slowmotion', sehingga gerakan gue jadi lebih lambat dari bayi siput yang belom belajar jalan. Ditambah lagi ketika gue ga nafsu sama matakuliahnya, dengan tiba-tiba gue melakukan aktivitas yang ga biasa gue lakuin di hari yang laen sebelom ke kampus. Mulai dari maen piano pagi-pagi, maen gitar, maen minigame di laptop, dan hal-hal laen yang buat gue lupa waktu.


Kekurangan asupan informasi
Ga ada yang kabarin gue tentang perubahan jadwal atau pergantian ruangan. Sadis!
Misalnya, ruangannya di lantai 3, rupanya karena satu dan lain hal, ruangannya dipindah ke lantai 1 (bolak-balik dari lantai 1 ke lantai 3 ga sebentar. Belom lagi jeda buat ngatur nafasnya).
Contoh laen...jadwal kuliah yang sebenarnya jam setengah 11, rupanya digeser lebih awal ke jam 10, dan ga ada yang kasih tau gue tentang itu. WTF!


Kurang tidur
Gue lebih aktif di malam hari. Bokap aja ledekin gue siluman musang. Beberapa temen gue juga ada yang ngejek gue batman, kelelawar, satpam shift malam, bahkan Raka (Raja Kalong). Keaktifan gue di malam hari membuat jadwal tidur gue ter-delay beberapa jam. Kalo udah kurang tidur, jadi susah kebangun. Mau gue dongkrak sekalipun mata gue ini pasti ketutup lagi. Kemungkinan terburuknya, gue ga masuk kuliah.


Hujan
Telatnya bukan karena gue ga bisa keluar, takut kebasahan, jalan licin, atau apa. Tapi, karena di waktu hujan setan-setan pada selotipin mata gue, dudukin badan gue, nyanyiin nina-bobo ke gue. Jadi gue tidurnya makin pulas.
Ini nih, satu-satunya hal yang bisa diteladani dari setan. Mereka selalu bisa melakukan tugasnya dengan baek : menggoda manusia. Kenapa gue sebagai mahasiswa ga bisa melakukan tugas gue? Datang tepat waktu, misalnya. Harus privat nih kayaknya sama Om setan -__-"


"Lebih baek terlambat daripada ga absen sama sekali" :p

Read More..

Sempat Jadi Hugh Hefner Gara-gara Usus Buntu


Ini kisah waktu gue masih kelas 3 SMP.

Perut gue yang sering bertingkah akhirnya mencapai puncak rasa-sakit-tiada-tara versi 3.0 (rasa sakit versi terbaru yang belom pernah gue alamin sebelumnya).
Kalau biasa sakitnya cuma kayak diinjak becak, waktu itu sakitnya kayak lagi digilas sama truk yang ngangkut satu lusin beruang bunting, dimana masing-masing beruang itu baru nelan pemain sumo, dan pemain-pemain sumo itu baru makan seisi kulkas yang pintunya double.
*garing

Yang bikin gue tambah merana, gue terpaksa bolak balik ke kamar mandi setiap 30 menit sekali karena muntah terus. (Jangan mikir macam-macam! Gue cowok, ga mungkin hamil)
Besoknya gue dibawa ke rumah sakit. Setelah sempat difitnah cuma-masuk-angin-kok, oh-gejala-tifus-ini, dan bahkan waduh-ginjalnya-bermasalah oleh makhluk Koas yang maha sok tau; habis di USG ternyata ketahuan perut gue dibajak sama Usus Buntu yang udah parah. Jadi harus dioperasi secepatnya. Terus gue ditransfer ke sebuah rumah sakit di Medan dan dioperasi di sana, karena nyokap meragukan rumah sakit di sini.

Beberapa hari setelah operasi, gue baru sadar ternyata suster-suster di sana --ehm-- ngefans sama gue yang waktu itu masih brondong dan lagi imut-imutnya (apa iya?). Bahkan dengan senang hati mereka menunjukkan kegenitannya di depan ortu gue. Ortu gue malah senyum-senyum aja. Kayaknya mereka cukup tau itulah konsekuensi punya anak yang cakep :p

Setelah dua minggu dipenjara di rumah sakit, gue dibolehkan pulang walaupun masih berstatus rawat jalan.

Namun penderitaan ga berhenti disitu.

Karena, sialnya, dua bulan kemudian penyakit gue kumat. Lagi-lagi tubuh gue harus berbaring di rumah sakit (iyalah berbaring, masa nungging). Dan lagi-lagi, gue harus berhadapan sama suster-suster genit yang notabene-nya jelek itu. Gue curiga jangan-jangan mereka yang doain gue sakit lagi.

Kali ini level ke'fanatik'an mereka sedikit lebih meningkat dari sebelumnya. Gambar yang gue buat untuk mengusir kebosanan malah disita sama mereka terus ditempel di --kalo ga salah-- bagian administrasi (bokap gue yang cerita). Salah satu dari mereka bahkan berhasil dapetin nomor hp gue (terpaksa gue kasih! Terpaksa!).

Setelah satu minggu, gue pun boleh pulang. Tapi sebelum gue pergi, suster-suster itu ngotot ke bokap minta difotoin bareng sama gue sebagai kenang-kenangan (kayak seleb ya kan). Bokap gue pun dengan senang hati melakukannya. Berada dalam momen seperti itu, gue merasa jadi Hugh Hefner, bosnya majalah playboy.




Apa ini yang disebut sengsara membawa nikmat? Ya, kalau mereka cakep semua :D

"Surrounding myself with beautiful women keeps me young."
–Hugh Hefner

Read More..

Superman Is Dad!



Bokap pernah bikin surprise beliin gue keyboard baru, untuk gantiin keyboard lama gue yang udah busuk. Tapi keyboardnya itu keyboard buat dangdutan (kurang lebih itulah yang ditulis di kotaknya. Pokoknya memang untuk dangdut). Alahmaaak.... -_-"
Tapi karena gue ga mau kecewain bokap gue yang udah bela-belain nyari keyboard itu, gue mencoba untuk tetap bersikap 'wow-cool!-thanks-dad!'. Yaudahlah, gue terima aja walaupun faktanya gue ga suka sama keyboardnya. Lagian lumayan juga untuk buat jari gue ga kaku.

Waktu itu gue yang masih labil ga ngerti seberapa tulus niat bokap pas beliin itu. Ah...dasar durhaka -__-"
Katakanlah beberapa tahun lagi gue punya istri dan gue ga impotent, gue berharap anak gue ga ngikutin sifat jelek gue ini :D

***

Adik gue pernah ceritain sesuatu yang buat gue terharu. Konon, waktu bokap gue masih muda, lajang, belum buncit, dan belum ubanan, beliau hobby banget nembakin burung-burung liar dengan senapan angin (bisa dimaklumi, dulu belom ada pointblank). Hal ini terus berlangsung sampe beliau nikah. Terus pada 16 Juni 1992, Tuhan mencampakkan seorang bayi laki-laki yang imut ke bumi ini (gue, maksudnya) dan beliau pun menjadi seorang Ayah.

Ketika sedang berburu seperti biasa, bokap menyaksikan suatu peristiwa yang buat suasana jadi melo. Beliau ngeliat seekor burung yang baru bawa pulang makanan untuk anaknya. Bokap jadi kasian, kalo beliau nembakin burung itu anak-anaknya jadi ga bisa makan.


Gue yakin saat itu beliau merenungi dan memposisikan dirinya sebagai seekor burung. Dengan Aceh yang --waktu itu-- lagi masa konflik bukan ga mungkin beliau juga bernasib sama dengan burung-burung yang pernah diburunya : dikejar peluru; disandera; atau dibunuh. Mengingat hukum karma itu berlaku, lalu apa yang bakal terjadi sama gue? Tentunya bokap ga mau gue besar tanpa mengenal kasih sayang seorang ayah.
Siapa yang nanti jagain gue dan nyokap?
Siapa yang cariin gue cacing? (Semoga kalian ga lupa, kita lagi menganalogikan burung)
Siapa yang bakal ajarin gue bawa sepeda? (Iya memang, ga ada burung yang ngajarin anaknya  bawa sepeda. Tapi kira-kira kalo gue yang jadi Ayah, gue mikirnya gitu).

Sejak peristiwa itu, bokap memutuskan untuk 'pensiun' dari ritual tembak-menembak burung. Senapan angin tercintanya itupun dikasih ke temennya. Semua dilakukan karena beliau sayang sama gue.

Jujur, setelah adik gue ceritain ini gue lumayan-agak-sedikit merinding. Gue terharu, hati gue bergetar, terus nangis tersedu-sedu sampe jungkir balik (oke, yang ini bohong. Lagian gengsi juga nangis di depan anak kecil)

Gue baru berpikir, ternyata sebegitunya beliau mikirin nasib gue saking sayangnya beliau ke gue.
Terus apa yang dulu pernah gue lakuin untuk ngebalas jasa dan kasih sayang bokap gue? Nyolong duit diam-diam (mana ada nyolong terang-terangan) dari kantong celananya demi sebatang rokok? Bolos sekolah? Bentak-bentak ga jelas?

Betapa jahatnya gue waktu itu, ga mau tau perasaan bokap gue. Padahal beliau yang jadi pahlawan setiap kali nyokap lagi emosi ke gue, beliau yang ngasih uang jajan tambahan ke gue (secara diam-diam) karena nyokap gue emang pelit banget. Superman is Dad! :)

Gue bersyukur sampe gue di bangku kuliah seperti sekarang ini, gue masih dikasih kesempatan untuk menikmati kasih sayang kedua orangtua gue. Karena itu sekarang gue berusaha untuk ga nyakitin perasaan mereka lagi. Setidaknya itu hal yang paling mungkin gue lakuin, mengingat IP gue semester kemaren jeblok banget (semester ini gimana ya?).

Ironis. Kenapa gue baru sadar di saat sekarang gue jauh dari mereka ya? Seandainya gue sadar dari dulu, kemungkinan besar uang jajan gue jauh lebih banyak dari yang sekarang :p


"He didn't tell me how to live; he lived, and let me watch him do it."
~Clarence Budington Kelland

Read More..

Hikmah Kedatangan Ortu

Kemarin ortu gue ngabarin, kalo mereka beserta adik gue  yang paling kecil yang badannya bengkak kayak ular baru nelan kuda nil bakal ngunjungin gue. Kabar yang menggemparkan, karena itu artinya gue harus segera membersihkan kamar gue yang bagaikan jepang sehabis tsunami. Kalo ga, gue harus rela dengerin nyokap jadi rapper dan ngomel-ngomel selama sehari semalam lima waktu -__-"

Selain biaya makan jadi lebih hemat (mesti ya anak kost ngomongin biaya mulu?!), kedatangan ortu ke kota pencekik kantong ini memang berdampak terlalu baik pada keadaan kamar gue.

Inilah kondisi kamar gue sebelum dan sesudah gue bersihin (jangan diketawain) :
 


BEFORE

Selama gue ngekost, kondisi kamar seperti gambar di atas udah paling rapi di mata gue


AFTER

Foto ini gue ambil tiga jam setelah handphone gue kerasukan SMS dimana isinya mengatakan bahwa ortu bakalan jenguk gue (kayak lagi sakit aja dijenguk)


Ya, mungkin "mengirimkan ortu ke kost" adalah strategi Tuhan supaya gue tergerak mau bersihin kamar... Thanks God, love u -__-"

Read More..

Nasib Koin Rp.500 yang Terabaikan


Waktu pertama kali jadi anak kost, gue adalah anak kost yang sangat berbahagia dan sejahtera karena bokap gue ngirimin gue duit kapan aja duitnya habis, jadi di kala itu gue belom bisa memaknai dengan baik istilah ‘akhir bulan’. Tapi karena gue belom ngerti gimana cara mengatur dan mengontrol pengeluaran, gue jadi teramat-sangat-super boros. Sehingga uang jajan gue dicukur sama bokap dan uangnya juga mulai dikirim per bulan. Ya, emang udah hakikatnya nasib anak kost begitu. Hmph.. :[

Sejak peristiwa menyedihkan itu, gue baru tau betapa menderitanya tragedi akhir bulan. Gue harus mikir berulang kali sebelum ngeluarin uang dari kantong gue. Kadang gue juga harus capcipcup dulu pilih mana antara beli makan, beli pulsa, atau beli rokok.

Di saat terjepit seperti itu, gue harus lebih cerdas dalam bermanuver. Mulai dari menghindari benalu di kampus yang bisanya cuma minta rokok atau nebeng ongkos parkir; mengontrol diri gue untuk ga tergoda kalau ada temen yang ngajak ngopi; sampai mengurangi jumlah makan gue menjadi satu hari sekali (atau bahkan tidak sama sekali!).

Haruskah sekeping koin Rp. 500, baru benar-benar berharga ketika akhir bulan..?
Setiap dalam kondisi kaya berjaya (awal bulan), kalau gue liat ada koin Rp. 500 di lantai pasti gue cuekin aja. Paling juga ga lama kemudian itu koin hilang entah kemana, ah peduli amat. Ironisnya, ketika gue berada dalam ‘era kekosongan’ di akhir bulan, baru gue sadar betapa berharganya koin 500 itu. Sampe-sampe gue rela nungging atau ngesot di sekeliling kamar gue, berharap gue bisa ketemu lagi sama koin-koin yang pernah hilang itu. Koiiin... lagi dimana? maen yuk!

Kasian banget si koin, cuma dianggap exist di saat akhir bulan aja. Kalau di awal bulan diabaikan atau dikasih ke tukang parkir.
Sama halnya kayak koin 500 tadi, kita juga sering mengabaikan orang lain hanya karena kita berpikir bahwa kehadirannya ga cukup penting buat kita. Kita cuma datangin dia di saat lagi butuh aja. Setelah kepentingan itu terwujudkan, jangankan negur, ingat aja ga. Apa itu artinya kapasitas berharga atau tidaknya seseorang relatif terhadap waktu? Tergantung kapan kita butuh, disaat itulah baru dia menjadi penting? Ckckck....

Makanya gue jadi males banget kalau ada orang yang biasanya cuekin gue tiba-tiba nongol dan jadi baek banget sama gue. Setiap kali spesies yang kayak gini muncul, seakan-akan gue bisa membaca tulisan di jidat mereka : ‘'gambarin tugas gue dong'’ 
-__-"

Read More..

About Me

My Photo
Zazuli
Banda Aceh, NAD, Indonesia
Salah satu spesies dominan otak kanan yang sedang berkuliah di jurusan yang salah, Teknik Sipil. Hobby begadang, punya ingatan yg buruk, melankolis, punya ketertarikan berlebihan terhadap musik akustik, dan benci matematika. Mencintai segala sesuatu yg berbau seni (ingat, 'yang berbau seni'. Bukan 'seni yang berbau'. Kalo itu air seni). dan... itu bener-bener ga ada hubungannya dengan kenapa gue males mandi.
View my complete profile
Powered by Blogger.