Negeri Antah Berantah dan Sebuah 'Rumah Bordil'




                             


WARNING!!
KALO LO BELUM CUKUP UMUR, SEBAIKNYA JANGAN BACA INI.
KALO SEKIRANYA LO BELUM BISA MENCERDASI SESUATU, 
JANGAN BACA INI JUGA.

***


Alkisah, ada sebuah negeri antah berantah yang kaya, kaya para pejabatnya, kaya akan sampah-sampahnya, kaya akan kemiskinannya. Sebuah negeri yang subur, subur korupsinya, subur ketidakpedulian masyarakatnya, subur trend-trend bodohnya, dan subur masalah-masalahnya. Sebuah negeri yang menjadi surga, bagi bedebah-bedebah.

Di negeri yang gue lupa namanya itu, terdapat sebuah Rumah Bordil yang popularitasnya belakangan ini menjulang dan terus berkembang pesat. Di depan pintu masuknya terdapat pamflet bertuliskan AKSAYUK KEEP S*KS, nama dari rumah bordil itu.

Rumah bordil ini punya keunikannya tersendiri, pelanggannya disuguhi lawakan-lawakan primitif, nyanyian dan tarian vulgar yang diperagakan secara massal. Tarian itu biasanya dipimpin oleh seseorang yang dijuluki “Emperor”. Maskot di tempat itu.

Entah karena kelalaian orang tua atau apa, anak-anak di negeri antah berantah itu otaknya pun ikut tercemar tarian ini. Dengan innocent-nya mereka mempraktikkan tarian ini di sekolahnya, di hadapan teman-teman wanita di kelasnya.



Itulah salah satu alasan kenapa Rumah AKS ini menuai kontroversi, melahirkan banyak pro dan kontra. Ada yang membela kehadiran tempat itu; ada yang menentang keras; ada yang hanya menikmati saja (tidak memikirkan apa-apa, yang penting nikmat); dan ada juga yang menjahit mata serta mulutnya, menyumbat telinganya, memalingkan wajahnya.


Pihak Barisan Pembela Selera Rakyat (BPSR), berpendapat bahwa suka atau tidak suka itu hanyalah masalah pertentangan selera. Masalah kebobrokan itu perkara kesekian. Pokoknya mereka ini adalah orang-orang baik yang benar-benar memperjuangkan kebebasan berselera masyarakat di negeri itu. Oooh, betapa mulianya mereka. Rakyat di negeri antah berantah itu pasti senang dan bangga sekali punya orang-orang seperti BPSR.


Di lain pihak, ada Barisan Peduli Moral Bangsa (BPMB) yang paling resah akan kehadiran rumah bordil ini. Mereka ramai-ramai menandatangani petisi agar aktivitas di rumah itu segera dihentikan. Ketiadaan estetika dan etika dari aktivitas yang dilakukan ditempat ini membuat mereka jenuh, gerah, dan muak. Mereka khawatir r
utinitas dan ritual tidak mendidik yang dilakukan Rumah AKS akan mengakibatkan moral bangsa semakin terkikis dan masa depan bangsa jadi semakin suram. Dari sudut pandang mereka, cara terbaik menyelesaikan masalah itu harus dimulai dari akar masalahnya, tidak hanya fokus pada masalah yang ada di permukaan. Oleh karena itu, menyalahkan orang tua yang lalai atau menyalahkan adanya perbedaan kualitas selera bukanlah hal yang bijak.


Suatu hari, di sebuah ruangan, kedua kubu berdebat hebat.

“Kalau tidak suka pelacur, ya jangan ke tempat pelacuran. Biarkan mereka mencari rezekinya masing-masing. Biarkan mereka berkarya dan berkembang. Toh banyak juga masyarakat yang terhibur. Kalau tidak suka, tidak usah dipedulikan, lama-lama juga tempat itu bangkrut sendiri. Di negeri kita ini, masih banyak masalah-masalah lain, kawan. Tidak usah memusingkan masalah sepele seperti ini.” ujar kubu BPSR. Mereka jengkel, kenapa di negeri itu sulit sekali ditegakkannya toleransi berselera.

Salah satu anggota BPMB tiba-tiba kentut secara kontinu dan intensif di ruangan perdebatan, kubu BPSR geram, rontok bulu-bulu hidungnya. Mereka marah. Mereka merasa terhina.

Lalu pihak BPMB pun menjawab santai, “Tidak perlu marah, i
ni juga masih ada kaitannya dengan problematika selera. Kalau tidak suka bau kentut, ya jangan dicium. Kenapa tidak tutup saja hidung kalian sebentar, jangan pedulikan. Lama-lama baunya hilang sendiri.”

Sampai hari inipun, mereka terus berdebat tanpa henti, tanpa solusi.

Siapa yang sebenarnya benar diantara mereka? Entahlah. Tapi kita sama-sama tau, sepelik apapun perdebatan yang timbul akibat perang selera ini, Sang Pemilik Rumah Bordil dan teman-teman seperjuangannya tentu tidak akan semudah itu menutup bisnis mereka. Otak mereka terlanjur terlilit kapitalisme. Mereka tidak peduli akan menjadi sebobrok dan sedangkal apa moral bangsanya itu. Yang mereka pikirkan hanyalah lembaran uang yang terus mengalir dan mengendap ke dasar kantong mereka.

Entah bagaimana nasib negeri itu nantinya. Yang jelas, di negara antah berantah yang malang itu kebobrokan kian menjadi hal yang dominan. Mayoritas penduduknya masih saja gemar mendatangi Rumah Bordil AKS.
Moral merekapun banyak yang sudah terjangkiti spilis. Kronis dan memprihatinkan.




TAMAT.
Tamatlah negeri itu sebentar lagi.

***


CERITA INI HANYA FIKTIF BELAKA, APABILA ADA KESAMAAN TOKOH, WAKTU, PERISTIWA, ITU ADALAH KEBETULAN SEMATA DAN TIDAK ADA UNSUR KESENGAJAAN. 

*LOL*


Apabila ada yang tidak suka, 
LO MAKAN TUH SELERA.





17 comments:

Elyzabeth Silaban 1/09/2014 7:35 AM  

penulis sendiri termasuk yang mana ?

leniwiw 1/09/2014 8:45 AM  

dari awal acara itu ada aku gak pernah mau nonton, entah dimana letak kelucuannya..

Ivan A 1/09/2014 1:44 PM  

nice post

Om Yono Tristiyono 1/09/2014 6:14 PM  

heuheuheu... ceritanya mengajak untuk berfikir ke satu titik...
bagus, keep smile yuuuuuk~

Shakti Nugroho 1/09/2014 6:29 PM  

sejauh ini gue belom nemu acara tv yang nggak ngebosenin :/

Insinyur Pikun 1/09/2014 8:23 PM  

Wah gue merasa kesindir nih :D tak apa lah orang itu bebas beropini, masalah moral belakangan. Gue memang pernah nulis soal selera. Tapi bukan itu yang gue prioritaskan, karena gue bukan BPSR atau BPMB. Ada banyak masalah tapi yang dibahas cuma satu. Ada banyak rumah bodil tapi yang digusur cuma satu. Lucunya, BPMB bilang, "menyelesaikan masalah itu harus dari akar, tidak hanya fokus pada masalah yang ada dipermukaan". Nah masalahnya rumah bordil yang berdiri lebih dulu eksis dari AKS ini nggak diapa-apain, sementara AKS sekarang sedang melejit di permukaan.

Bukannya apa-apa bang, gue cuma takut BPMB itu mengatas namakan moral, tapi ternyata malah membela rumah bordil yang lain dengan menarik pelanggan AKS ke tempat yang lainnya. Atau jangan-jangan BPMB ini justru malah membela AKS secara terselubung, karena apa? Semakin banyak dibicarakan di sosial media, semakin jadi trending topik, semakin terkenal lah dia.

Salam kenal dari Jember :)

Zegaisme 1/09/2014 8:49 PM  

bagus banget artikelnya. analoginya keren dan lucu juga.
mungkin gua ikut bpmb, karna gua juga udah enek sama aks ini. durasinya juga gak kira-kira. parah deh

Zazuli 1/09/2014 9:33 PM  

@elyzabeth
Penulisnya BPMB mungkin :D

@leniwiw
Nonton apa ya? kamu ngomongin apa sih? kita ga lagi bahas acara TV tertentu kok disini :p

@ivan
thanks for visit

Zazuli 1/09/2014 9:37 PM  

@om yono
haha. Silahkan berfikir ke titik apapun om :D

@shakti
Sebenernya ga ada hal yang ga menarik di dunia ini, yang ada itu orang yang gak tertarik.
Seperti kata mereka, "kembali ke masalah selera".
Pertentangan selera ga masalah, tapi diatas semua itu, moral jangan dikesampingkan.

Ilham Abdullah 1/09/2014 9:51 PM  

Sedaaaaap! Kena banget Mabrooooo, Gue setubuh!

Zazuli 1/09/2014 10:03 PM  

@insinyur
Haha. Terimakasih sudah berkunjung.

Iya, itu kenapa di awal gue bilang negeri antah berantah itu subur akan masalah-masalahnya.
Maksud kata-kata BPMB itu untuk kasus yang ini sih sebenernya. Akar masalah = "rumah bordil AKS" itu,
masalah yang di permukaan = "kelalaian orang tua yang tidak mampu menjaga anaknya" dll.
Masalah rumah bordil lain tidak apa-apain, itu salah siapa?
Yang berhak ngapa-ngapain itu siapa? BPMB?
Kapasitas BPMB cuma bisa sebatas bikin petisi, yang punya wewenang dan kekuasaan untuk nutup usaha ini kan bukan mereka.
Di daerah lain banyak kok warga yang nuntut rumah bordil di daerah mereka ditutup, bukan satu rumah bordil aja. Hanya saja karena rumah bordilnya kurang populer jadi ga terlalu terdengar di media.
Terus rumah bordil yang udah diminta untuk ditutup itu kadang ga didengerin, kadang rumah bordilnya ga ada yg berani apa-apain, backingnya terlalu kuat.
Salah siapa?

Haha. Kalo itu gue juga takut.
Menyedihkan sekali memang kalo BPMB adalah orang yang seperti ini.
Memang sulit membedakan yang mana kebaikan esensial dan yang mana kebaikan imitasi.
Contohnya kayak mau pemilu terus tiba-tiba banyak yang rajin nyumbang ini itu.
Tapi semoga yang dilakukan BPMB itu emang karena prihatin sama ketergerusan moral yang terjadi di negerinya, bukan karena pengen beken dan dibilang pahlawan.

Zazuli 1/09/2014 10:04 PM  

@zega, ilham
terimakasih sudah berkunjung :)

Dauz Rahmat 1/10/2014 12:46 PM  

haha, iyaya. hal sepele gini aja diributin. tapiya gitu, pasti ada yang pro dan kontra. postingannya bagus kak.

Teuku Amir 1/11/2014 4:16 PM  

analogi kentut itu keren abis *ngakak guling-guling

Zazuli 1/16/2014 3:28 AM  

@Dauz dan Teuku
Terimakasih sudah berkunjung :))

Fandhy Achmad Romadhon 2/01/2014 3:50 PM  

wah tulisanmu keren bro .. penuh kalimat satir dan sindiran :)
AKS ? AYUK KEEP S*EKS hahaa nice joke bro! :D

Zazuli 2/01/2014 4:17 PM  

@Fandy
Hahaha. Yah, begitulah. Sindiran untuk menyadarkan :9

Post a Comment

About Me

My Photo
Zazuli
Banda Aceh, NAD, Indonesia
Salah satu spesies dominan otak kanan yang sedang berkuliah di jurusan yang salah, Teknik Sipil. Hobby begadang, punya ingatan yg buruk, melankolis, punya ketertarikan berlebihan terhadap musik akustik, dan benci matematika. Mencintai segala sesuatu yg berbau seni (ingat, 'yang berbau seni'. Bukan 'seni yang berbau'. Kalo itu air seni). dan... itu bener-bener ga ada hubungannya dengan kenapa gue males mandi.
View my complete profile
Powered by Blogger.