Nasib Koin Rp.500 yang Terabaikan


Waktu pertama kali jadi anak kost, gue adalah anak kost yang sangat berbahagia dan sejahtera karena bokap gue ngirimin gue duit kapan aja duitnya habis, jadi di kala itu gue belom bisa memaknai dengan baik istilah ‘akhir bulan’. Tapi karena gue belom ngerti gimana cara mengatur dan mengontrol pengeluaran, gue jadi teramat-sangat-super boros. Sehingga uang jajan gue dicukur sama bokap dan uangnya juga mulai dikirim per bulan. Ya, emang udah hakikatnya nasib anak kost begitu. Hmph.. :[

Sejak peristiwa menyedihkan itu, gue baru tau betapa menderitanya tragedi akhir bulan. Gue harus mikir berulang kali sebelum ngeluarin uang dari kantong gue. Kadang gue juga harus capcipcup dulu pilih mana antara beli makan, beli pulsa, atau beli rokok.

Di saat terjepit seperti itu, gue harus lebih cerdas dalam bermanuver. Mulai dari menghindari benalu di kampus yang bisanya cuma minta rokok atau nebeng ongkos parkir; mengontrol diri gue untuk ga tergoda kalau ada temen yang ngajak ngopi; sampai mengurangi jumlah makan gue menjadi satu hari sekali (atau bahkan tidak sama sekali!).

Haruskah sekeping koin Rp. 500, baru benar-benar berharga ketika akhir bulan..?
Setiap dalam kondisi kaya berjaya (awal bulan), kalau gue liat ada koin Rp. 500 di lantai pasti gue cuekin aja. Paling juga ga lama kemudian itu koin hilang entah kemana, ah peduli amat. Ironisnya, ketika gue berada dalam ‘era kekosongan’ di akhir bulan, baru gue sadar betapa berharganya koin 500 itu. Sampe-sampe gue rela nungging atau ngesot di sekeliling kamar gue, berharap gue bisa ketemu lagi sama koin-koin yang pernah hilang itu. Koiiin... lagi dimana? maen yuk!

Kasian banget si koin, cuma dianggap exist di saat akhir bulan aja. Kalau di awal bulan diabaikan atau dikasih ke tukang parkir.
Sama halnya kayak koin 500 tadi, kita juga sering mengabaikan orang lain hanya karena kita berpikir bahwa kehadirannya ga cukup penting buat kita. Kita cuma datangin dia di saat lagi butuh aja. Setelah kepentingan itu terwujudkan, jangankan negur, ingat aja ga. Apa itu artinya kapasitas berharga atau tidaknya seseorang relatif terhadap waktu? Tergantung kapan kita butuh, disaat itulah baru dia menjadi penting? Ckckck....

Makanya gue jadi males banget kalau ada orang yang biasanya cuekin gue tiba-tiba nongol dan jadi baek banget sama gue. Setiap kali spesies yang kayak gini muncul, seakan-akan gue bisa membaca tulisan di jidat mereka : ‘'gambarin tugas gue dong'’ 
-__-"


0 comments:

Post a Comment

About Me

My Photo
Zazuli
Banda Aceh, NAD, Indonesia
Salah satu spesies dominan otak kanan yang sedang berkuliah di jurusan yang salah, Teknik Sipil. Hobby begadang, punya ingatan yg buruk, melankolis, punya ketertarikan berlebihan terhadap musik akustik, dan benci matematika. Mencintai segala sesuatu yg berbau seni (ingat, 'yang berbau seni'. Bukan 'seni yang berbau'. Kalo itu air seni). dan... itu bener-bener ga ada hubungannya dengan kenapa gue males mandi.
View my complete profile
Powered by Blogger.